Rangkong ?

Rangkong, dikenal juga sebagai burung enggang, julang, dan kangkareng merupakan julukan untuk keluarga burung yang unik dan sangat indah. Dengan segala keunikan yang di milikinya, ukuran tubuh yang besar, warna yang kinclong di bagian kepala dan tambahan berupa balung di atas paruhnya, menjadikan burung ini berbeda dengan jenis-jenis burung yang ada di Indonesia. Terdapat 13 jenis rangkong di Indonesia yang tersebar mulai pulau terluar di ujung selatan Aceh sampai beberapa pulau terkecil di daerah Papua Barat. Kaya akan keragaman rangkongnya, Indonesia merupakan negara terpenting untuk konservasi rangkong di dunia. Namun belum banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari keberdaan rangkong yang tersebar di hutan-hutan tropis Indonesia yang setiap tahunnya terus berkurang.Di latar belakangi oleh kepedulian terhadap minimnya informasi rangkong di Indonesia, website ini dibangun untuk menjadi Rumah Informasi Rangkong Indonesia. Rumah untuk berbagi informasi rangkong, media penyadartahuan dan rujukan tentang rangkong di Indonesia.

Rhyticeros cassidix

10 June 2009
Oleh Iwan Hunowu
Julang Sulawesi betina sedang bertengger

Julang Sulawesi betina sedang bertengger

Lama saya berburu untuk mendapatkan fotonya. Pada beberapa kesempatan, saya berhasil mengabadikannya, hanya saja kualitasnya jelek sekali. Kali ini, peluang untuk itu berhasil saya manfaatkan dan hasilnya pun seperti yang terpajang pada postingan kali ini.

Rhyticeros cassidix, begitu ia di sapa dalam nama Ilmiahnya. Orang Sulawesi (khususnya di Bagian Utara) banyak mengenalnya sebagai Burung Taon, atau juga Alo. Sementara di Indonesia, ia diberi mana Julang Sulawesi, yang juga dikenal sebagai Rangkong. Jenis burung endemik Pulau Sulawesi dan juga tergolong jenis burung di lindungi oleh Peraturan Pemerintah RI (PP No 7 Tahun 1999).

Kebiasaannya yang terbang tinggi di atas kanopi hutan dan tempat bertenggernya yang juga di cabang-cabang pohon yang tinggi, menjadi faktor penghalang (khususnya bagi saya) untuk mengabadikannya dalam sebuah karya foto. Tapi mungkin tidak bagi kawan satu ini. Selengkapnya…

Bookmark and Share

Rangkong, si petani berlahan di Hutan

28 May 2009
Oleh Nurul L. Winarni

Tahukah bahwa burung rangkong punya bulu mata? Yang konon berfungsi dalam mencari pasangan…….

.

Buku referensi rangkong Asia terkini

Burung rangkong (family Bucerotidae) telah menjadi perhatian Carolus Linnaeus pula sejak tahun 1758 pada waktu ia mempublikasi Systema Naturae. Sementara kapan rangkong ini muncul, diduga sejak Jaman Oligocene sekitar 30-35 juta tahun yang lalu. Didominasi warna dasar hitam pada sebagian besar jenisnya, ternyata ada hal-hal menarik yang membedakan rangkong dengan burung lainnya.Rangkong punya balung (casque) di kepalanya yang kadang berwarna-warni yang menjadi aksentuasi pada paruh panjangnya. Ini adalah sebagian cerita dari Margaret Kinnaird dan Timothy O’Brien dalam “the Ecology and Conservation of Asian Hornbills: Farmers of the forest” dari pengalamannya selama lebih kurang 17 tahun meneliti burung-burung ini di Indonesia. Dari sini, saya juga baru tahu ginjalnya berlobus 2 (sementara burung lainnya berlobus 3) yang menjadikannya suatu kelompok yang unik di antara burung-burung lainnya. Ah, tapi betapa isengnya jika membahas ini…. Beruntunglah negeri ini mempunyai 13 jenis rangkong yang tersebar di hampir seluruh kepulauannya.Tetapi apa artinya? Selengkapnya…

Bookmark and Share

Rangkong Sulawesi, Pesawat Tempur Penebar Biji

28 May 2009

Ketika melihat majalah baru terbitan Birdlife Indonesia berjudul BURUNG dengan foto RangkongSulawesi di sampul depannya, saya jadi dag-dig-dug-der karena yakin itu adalah salah satu individu yang saya amati 14 tahun lalu di Cagar Alam Tangkoko. Gompal pada bagian jenggernya menjadi pertanda, dan saya sudah cukup sering melihat tampangnya pada berbagai publikasi. Lembar demi lembar kucermati, ternyata tidak ada artikel Rangkong Sulawesi. Bahkan tidak ada kata Rangkong Sulawesi atau Sulawesi Red-knobbed Hornbill atau Aceros (Rhyticeros) cassidix di antara 14 artikel di majalah itu. Lho, apa semua pembaca diasumsikan tahu siapa nama burung itu ya? Selengkapnya…

Bookmark and Share

Rangkong Sulawesi, Big and Beautiful

27 May 2009
Oleh Suer Suryadi

Waktu ane mau neliti Rangkong sulawesi (Aceros cassidix) pada awal tahun 1993 untuk skripsi, sesungguhnya ane belum pernah tahu dan melihatnya langsung. Tidak juga di kebun binatang atau taman Burung.

Ya udah, mulailah ane hunting informasi ke kantor International Council for Bird Preservation di Bogor (ICBP, cikal bakal Birdlife International, yang melahirkan Burung Indonesia). Lalu menemui Pak Ismu Suwelo, peneliti senior dari Diklat Kehutanan di Bogor utk dapat literatur. Bermodal semangat dan sedikit literatur, berangkatlah ane ke Cagar Alam Tangkoko-Dua Sudara (TDS). Cagar alam seluas 88 km2 itu terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Selama lima bulan, saya ”diadopsi” oleh Tim O’Brien & Margaret (Maggie) Kinnaird, yang kelak menjadi pionir kehadiran Wildlife Conservation Society di Indonesia (WCS, dulu namanya NYZS/Wildlife Conservation International).

Setibanya di Desa Batuputih, desa terdekat dengan TDS, rasanya tak sabar ingin melihat makhluk yang akan saya pelototi beberapa bulan kedepan. Ketika saatnya tiba, sayapun terhenyak. Sebelum saya berhasil melihatnya, si Rangkong sudah berkaok-kaok keras disertai kibasan sayapnya yang bergemuruh. Ge-er banget sih nih burung. Belakangan kutahu, bahwa itu adalah sikap waspada dengan memberikan alarm call atas kehadiran manusia, yang beberapa di antaranya suka membuat sop paha rangkong. Selengkapnya…

Bookmark and Share